Jumat, 26 Februari 2010

Sejarah dan Manfaat Tempe

Penelusuran asal-usul tempe cukup sulit karena menghadapi beberapa kendala, diantaranya karena faktor tulisan dan bahasa. Tulisan Jawa Kuno sudah hampir punah dan bahasa Jawa Kuno nyaris berubah menjadi bahasa Jawa Baru.

Dalam buku Bunga Rampai Tempe Indonesia, Mary Astuti, seorang pakar tempe dari Universitas Gajah Mada menuliskan asal-usul kedelai dan tempe berdasarkan hasil penelusuran dokumen yang ada. Menurutnya (dari dua buah kamus), kedelai berasal dari bahasa Tamil (India Selatan) yang berarti kacang kedelai (mung bean, soybean).

Berdasarkan catatan para pedagang Cina yang datang ke Jawa pada zaman Dinasti Sung (abad X), pulau Jawa merupakan daerah pertanian yang subur dengan hasil pertanian berupa padi, rami, dan polong-polongan, tetapi tidak terdapat gandum (Groenevelt, 1960). Para pedagang Cina yang berdagang dengan orang Jawa memberikan informasi (sekitar abad XXI) bahwa barang-barang dagangan dari Jawa adalah kapuk, buah pinang, pala, fuli, cengke, gambir, nangka, dan pisang. Sebaliknya, dari Cina diimpor boraks, sutera, dan aluminium. Kedelai tidak disebutkan dalam daftar komoditas impor Cina tersebut, suatu bukti bahwa kedelai belum diperhatikan dan dibudidayakan di negeri Cina.

Mary Astuti menulis bahwa dalam pustaka Serat Sri Tanjung (sekitar abad XII dan XIII) yang bercerita mengenai Dewi Sri Tanjung, terselip kata kedelai yang ditulis sebagai kadele. Salah satu baitnya menggambarkan jenis tanaman di Sidapaksa yang mengandung kata kedelai, kacang wilis, dan kacang luhur.

Kata kedelai tidak hanya ditemui dalam Serat Sri tanjung, tetapi juga dalam Serat Centhini. Oleh penulisnya, Serat Centhini disebut Suluk Tambangraras. Pada Serat Centhini, kata kedelai terdapat pada jilid II, sedangkan kata tempe terdapat pada jilid III. Serat Centhini jilid III tersebut menggambarkan perjalanan Mas Cebolang dari Candi Prambanan menuju Pajang dan mampir di Tembayat, Kabupaten Klaten. Di sana, Pangeran Bayat dijamu dengan lauk-pauk seadaanya, termasuk tempe.

Dalam The Book of Tempeh Dr. Sastroamijoyo memperkirakan bahwa tempe sudah ada lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Saat itu bangsa Cina membuat makanan dari kedelai yang hampir mirip tempe, yaitu koji (sejenis kecap). Makanan tersebut terbuat dari kacang kedelai matang yang diinokulasi dengan Aspergillus oryzae. Metode inokulasi ini kemudian dibawa para pedagang Cina ke Pulau Jawa dan dimodifikasi agar sesuai dengan selera orang Jawa. Modifikasi dilakukan dengan mengganti Aspergillus oryzae dengan Rhizopus yang sesuai dengan iklim Jawa.

Pada zaman Jawa kuno, terdapat makanan yang dibuat dari sagu, disebut tumpi (Zoetmulder, 1982). Oleh sebab tempe juga berwarna putih dan penampakannya mirip tumpi maka makanan olahan kedelai ini disebut tempe.

Penemuan-penemuan tersebut sudah merupakan bukti yang cukup untuk memastikan bahwa tempe berasal dari Jawa. Tempe merupakan ciptaan dan menjadi budaya orang Jawa. Penyebaran tempe saat ini sudah berkembang di seluruh tanah air dan tidak terlepas dari ciri-ciri dan budaya Jawa itu sendiri.

Report: Eny Prasetyawati (21-02-10)

SEJARAH Asal Usul Sumpit

Sumpit diciptakan bangsa Tiongkok dan sudah dikenal di Tiongkok sejak 3.000 hingga 5.000 tahun yang lalu. Sumpit telah digunakan jauh sebelum penggunaan sendok dan garpu di Eropa (pisau ditemukan terlebih dahulu, namun lebih sebagai senjata, baru kemudian dibentuk khusus sebagai alat makan). Penggunaan sumpit dikembangkan oleh Confusius (551-479 BC). Orang-orang Tionghoa yang waktu itu menganut Konghucu, menganggap penggunaan sendok dan garpu adalah semacam kekejaman, bagaikan senjata dingin.


Sumpit lebih mencerminkan keanggunan dan belas kasih, sebagai ajaran moral utama dari Konghucu. Di dalam masyarakat Tionghoa, makan bersama dianggap sebagai sarana mempererat tali persaudaraan dan kesempatan berkumpul dengan sanak keluarga dan teman-teman, sehingga penggunaan alat makan yang tajam harus dihindari. Oleh karenanya, alat yang dapat melukai orang tidak boleh ada diatas meja makan, itulah mengapa masakan Tiongkok (chinese food) biasanya sudah dipotong-potong ukuran kecil sebelum dimasak, agar tidak perlu lagi ada pisau dan garpu diatas meja makan.

Bagi orang Tionghoa yang terbiasa menggunakan sumpit sejak kecil untuk mengambil nasi dan lauk, tentu dapat menikmati makan menggunakan sumpit. Namun bagi orang barat yang tidak terbiasa, mereka akan kesulitan, terutama dalam menjumput nasi dari mangkok untuk dimasukkan kedalam mulut. Sebaiknya dalam menjamu mereka dengan Chinese Food yang memakai sumpit, beri mereka kesempatan untuk belajar menggunakan sumpit dengan memberikan contoh. Bila mereka tetap merasa tidak nyaman, pesankan juga sendok dan garpu.

Ada juga kepercayaan tradisional setempat mengenai sumpit. Bila kita menemukan sepasang sumpit yang ganjil (tidak sama tingginya) di meja makan, pertanda kita akan kehilangan harta. Menjatuhkan sumpit pertanda nasib buruk. Mencapkan sumpit tegak lurus diatas makanan yang akan dimakan tidak boleh, karena itu adalah penyajian makanan untuk orang mati (biasanya saat sembahyang Ceng Beng). Di restoran dimsum, bila selesai makan, sumpit boleh diletakkan bersilang di mangkok sebagai pertanda bagi pelayan bahwa Anda sudah selesai makan dan minta bon diantar.

Report: Eny Prasetyawati (21-02-10)

Huize Trivelli


HUIZE TRIVELLI Heritage Resto and Pattisier adalah tempat yang tepat untuk para penikmat hidangan original masakan Tempo Doeloe. Dalam klasiknya suasana Laan Trivelli anda dapat menikmati keunikan serta kelezatan kulinari yang dari generasi ke generasi tertulis di resep tradisi keluarga kami, Keluarga HUIZE TRIVELLI. Selain kelezatannya, semua hidangan, minuman, serta panganan di HUIZE TRIVELLI hanya dibuat dari bahan-bahan berkualitas tanpa pengawet.

LAAN TRIVELLI adalah nama sebuah jalan panjang di era kolonial dahulu. Jalan yang membentang dari Jalan Abdul Muis menyeberangi Kali Tjideng dan berakhir di Jalan Batanghari-Tulang Bawang ini sekarang kita kenal dengan nama JALAN TANAH ABANG DUA. Pada masa kolonial –sekitar tahun 1939-1940- kawasan Laan Trivelli dibangun untuk area pemukiman milik bangsa Eropa-Belanda di Batavia. Pada masa pendudukan Jepang, kawasan pemukiman ini digunakan untuk kamp tahanan wanita dan anak-anak warga Eropa-Belanda yang dikenal dunia sebagai KAMP TJIDENG.

BANGUNAN RESTO HUIZE TRIVELLI menempati salah sebuah rumah asli dari perumahan warga Eropa-Belanda yang dibangun sekitar tahun 1939. Selama sekitar 50 tahun bangunan asli ini telah menjadi rumah keluarga kami. Namun, pesatnya pembangunan gedung-gedung perkantoran di kawasan ini, membuat rumah-rumah asli berkurang secara drastis.

Laan Trivelli atau Tanah Abang Dua tak hanya menjadi bagian dari sejarah Batavia, ia juga menyimpan indahnya kenangan masa kecil kami sebagai keluarga HUIZE TRIVELLI. Kondisi serta lingkungan kawasan ini sekarang menyadarkan kami akan pentingnya pemeliharaan, pelestarian bangunan dan budaya yang pernah ada serta berbagi kesemua itu dengan anda.

ATMOSFIR yang tercipta dari interior klasik eklektik, secara harmonis memadukan elemen-elemen kultural Eropa, Jawa, dan Cina. Dari kehangatan dan kenyamanan Roemah ini, kami menyambut kedatangan anda di HUIZE TRIVELLI: Roemah tercinta keluarga kami dan tempat bersantap yang membuat anda merasa “SEPERTI DI ROEMAH SENDIRI”.

Selamat datang dan selamat menikmati

SEJARAH

Keluarga kami berasal dari Klan keluarga Betawi Tempo doeloe yang telah bermukim sejak kl 200 tahun lalu . Sejak ratusan tahun lalu Batavia menjadi tempat persinggahan, pusat perdagangan, dan bahkan tempat bermukim bangsa-bangsa dari berbagai penjuru dunia. Kondisi sosial dan budaya yang sangat beragam tersebut membuat kaum Betawi memiliki tradisi serta budaya yang unik. Yaitu budaya dan tradisi yang merupakan hasil akulturasi berbagai budaya dan tradisi seperti Arab, Cina, Eropa, serta beragam budaya tradisonal yang berasal dari Indonesia sendiri. Hasil akulturasi budaya dan tradisi itu pun mengejawantah dalam berbagai aspek kehidupan didalam keluarga kami dalam bentuk tradisi kulinari .

TRADISI KULINARI WARISAN KELUARGA

Akulturasi budaya dan tradisi tersebut telah mengejawantah dalam tradisi kulinari keluarga kami .Adaptasi masakan dari berbagai latar belakang budaya menghasilkan beragam resep masakan yang tidak hanya kaya rasa tetapi juga unik. Masakan yang dihasilkannyapun dari waktu ke waktu cukup diminati masyarakat. Oleh karenanya resep-resep masakan tersebut menjadi warisan yang sangat berharga bagi keluarga kami.

Sekitar tahun 60-an keluarga kami merintis usaha kecil pembuatan aneka kue kering.

Dimulai dengan menawarkan dari pintu ke pintu, aneka kering buatan kami diterima di Sarinah Department Store. Sebuah pusat perbelanjaan prestigious pertama di Indonesia ketika itu.


HUIZE TRIVELLI-RUMAH KAMI DI LAAN TRIVELLI

Sejak tahun 1954, keluarga kami menghuni sebuah rumah yang berlokasi di Laan Trivelli 108, Batavia(sekarang:Jalan Tanah Abang Dua no.108)

Dibangun tahun 1939 , bangunan ini merupakan satu dari perumahan yang diperuntukkan bagi warga Eropa-Belanda di Batavia. Awalnya baik rumah maupun lahannya rumah yang kami huni merupakan milik Mevr J.C.H de Jongh geboren Van Slooten. Namun kemudian kepemilikan beralih kepada Drs. O. De Bruin bersama Drs. J.M Castelein yang pada saat itu bekerja untuk Kementrian PPK (Ministerie van Onderwijs).

Kawasan Laan Trivelli memiliki sejarah tersendiri bagi Batavia tempo doeloe di era kolonial. Laan Trivelli mencerminkan kehidupan Batavia baru Weltevreden(sekarang:Jakarta pusat).Rumah2 bertaman cukup luas berjajar apik di kedua sisi jalan yan diteduhi pepohonan besar.

Pada masa pendudukan Jepang(1942-1945) kawasan pemukiman Laan Trivelli digunakan sebagai Kamp tahanan wanita dan anak2 bagi warga Eropa-Belanda. Dan karena melintasi kali Tjideng, maka dunia mengenal kamp tahanan ini sebagai KAMP TJIDENG. Rumah keluarga kami sendiri terletak di Blok III dari keseluruhan kawasan kamp tahanan disepanjang jalan Laan Trivelli.

Pembangunan yang sangat pesat sejak kemerdekaan Indonesia , turut mempengaruhi kondisi lingkungan dan sosoial di Laan Trivelli. Gedung-gedung perkantoran dan pertokoan dengan pesat menggantikan rumah-rumah dari masa kolonial. Saat ini hanya tinggal beberapa buah rumah yang masih berdiri dalam keasliannya. Rumah keluarga kami adalah salah satu diantaranya.

Begitu banyak hal yang mendasari dan mendorong kami untuk menjadikan Roemah Keluarga ini menjadi HUIZE TRIVELLI Heritage Resto dan Pattisier. Dengan menjadikannya sebuah tempat bersantap kami berharap Huize Trivelli dapat memperkenalkan kembali tradisi kulinari keluarga kami . Selaras dengan keinginan berbagi kenangan mengenai kehidupan Batavia tempo doeloe kami berharap HUIZE TRIVELLI dapat menjadikananda dalam bersantap merasa “ SEPERTI DI RUMAH SENDIRI”.

Lokasi

HUIZE TRIVELLI

Heritage Resto and Pattisier

Jalan Tanah Abang Dua 108. Jakarta 10150

Tel./Fax. 021 3865803

Homepage:

www.huize-trivelli.com

Email us :

info@huize-trivelli.com or

management@huize-trivelli.com

Report by: Eny Prasetyawati

BIR PLETOK

Bir ini minuman Halal, karena memang nggak ada alkohol dan dibuatnya dari gula, jahe dan kayu secang …Inilah minuman tradisional Betawi …alias Bir Pletok ….

Kita bisa temukan dan beli bir pletok ini di Kampung Budaya Betawi di Situ Babakan – Srengseng Sawah seharga 10ribu rupiah saja… yang mau silahkan kesana … bisa liat pembuatannya sekalian …. namanya juga wisata kuliner.. banyak makanan dan minuman tradisional betawi punya …

Mari kita lestarikan budaya kuliner kita....

sumber : http://makanlagilagimakan.wordpress.com/tag/betawi/

- Lily -

MIE SELAT


Pertama kali mendengar Mie Selat, rada bingung juga makanan jenis apa?.

Itu pengalaman pertama kali datang ke Jakarta dan berkunjung ke tempat kost an sepupu di daerah Jatinegara di tahun 1990 an.

Setelah menghadapi makanannya ternyata mie selat adalah serupa dengan gado-gado namun sebetulnya bedanya cukup jauh juga. Bahan utamanya mie basah dingin yang biasanya dicampur dengan kentang, sayuran, tahu dan diberi bumbu kacang yang encer plus toping kerupuk (makanya sepintas jadi mirip dengan gado-gado). bumbu kacangnya beda dengan gado-gado karena untuk mie selat si bumbu kacang diberi campuran bawang putih seperti ketoprak namun lebih encer. Selain ada tambahan bawang putih, bumbu kacang mie selat biasanya terasa lebih asam dibandingkan bumbu ketoprak atau gado-gado.

Mungkin hanya sedikit orang yang mengenal nama jenis makanan yang agak langka ini. Entah darimana asalnya makanan satu ini, mungkin mie selat ini sejenis makanan peranakan peranan Cina Betawi sebab aku juga baru mengenal makanan ini setelah tinggal di Jakarta

Kalau mau cobain ada di "Gado-Gado Jatinegara" atau ke Pasar Cawang Kavling dan cari encik2 yang jualan Mie Selat namanya encik Elan dari jalan Kebun Sayur, Cawang dan aslinya Mie Selat ini dari Jembatan Hitam Mester.

Mari kita hunting kuliner budaya kita .....

-Lily -

SOTO BETAWI KARTINI RAYA


Mengingat nostlagia jaman masih di Pelatnas, pulang dari Ragunan ke mess Kartini Raya, Jakarta Pusat kita langsung menyantap soto betawi yang ada di pinggir jalan tersebut. Soto betawi ini bukanya mulai sore hari sampai tengah malam.
Soto betawi yang merupakan salah satu warisan budaya kuliner makanan asli Jakarta ini, di era modern ini tidak kalah bersaing dengan kuliner modern yang mewah.
Pelanggan di sini mulai dari yang jalan kaki, naik sepeda, naik motor, mobil umum, mobil pribadi sampai mobil mewah.
Rasanya mantap apalagi dengan dicampur jeruk limo, sambel, kecap manis ditambah dengan acar timun. Nyam...nyam...
Jadi lapar nih......
Nggak sulit nyari lokasinya kalau dari arah Sawah Besar sebelum perempatan Gunung Sahari, belok kiri masuk jalan Kartini Raya, nggak jauh dari situ sebelah kiri dan di pinggir kali kita bisa nemuin tenda Soto Betawi.
Don't miss it guys...


- Lily -


Soto Mie Karang Anyar


Menurut cerita dari orang asli Jakarta kalau Soto Mie yang letaknya di daerah Pasar Baru, Jl. E Karang Anyar sudah ada sejak kurang lebih separo abad yang lalu. Ini adalah salah satu warisan budaya kuliner yang bertahan sampai dengan saat ini. Soto mie Nikmat milik keluarga Haji Sahadi khas Rancamaya, Bogor awalnya berbekal pikulan dan dijajakan keliling di daerah Krekot Bunder.

Lokasi tempat makan ini tidak di pinggir jalan utama karena lebih tepat di sebut gang dan berada di lingkungan perumahan jadi bagi yang baru kenal dengan soto mie ini, agak sulit mencari. Tapi soto mie ini sudah cukup kesohor sehingga orang di seputaran Jalan Karang Anyar bisa jadi peta berjalan. Sederhana tapi cukup bersih, begitu tampilan tempat ini. Di bagian depan ada plang bertuliskan Soto Mi Haji Sahadi. Kalau kita datang, langsung dilayani dan biasanya kita akan ditanya, apakah ingin soto mie campur, atau ada pilihan lain. Campuran soto mie sederhana saja, bihun, mie, kol, diguyur kuah daging dengan potongan daging. Tambahannya, risoles dan emping bulat sebesar piring ukuran sedang. Biasanya emping dipecah-pecah dan diberikan kecap manis. Untuk harga Rp 15.000/porsi, ukuran soto mie semangkok besar dengan daging menumpuk menutupi campuran lain, tentu sepadan. Jika Anda ingin tambah emping, ya, tambah Rp 3.000 sedangkan satu risoles dibanderol Rp 1.000. Soal rasanya berbeda dari soto mie lain. Menurut Sumayadi, putra kedua dari enam bersaudara, yang kini bergantian dengan adik-adiknya menjalankan bisnis ayahnya, Haji Sahadi, daging yang digunakan sejak jaman sang ayah adalah daging kepala dan urat ditambah daging sop (daging iga). Hajah Mumun, istri Haji Sahadi, memang diserahi tugas mengelola bisnis ini namun karena usia beranjak senja, maka urusan ini akhirnya diturunkan pada keenam putra-putrinya. ”Kita bergantian seminggu-seminggu jaga di sini,” kata Sumayadi.

Sekarang Soto Mie Karang Anyar sudah memikili cabang di ruko Kelapa Gading, di Jalan Boulevard Raya FX1 no 3, yang mengelola adik dan kakak perempuan Sumayadi. Buat yang suka makanan berkuah, di siang yang panas atau siang selepas hujan, soto mie ini bisa jadi pas. Bumbu dan kuah daging, apalagi jika ditambah sambal, cuka, kecap manis, slurpppp ... ini beradu dan menghasilkan rasa yang bikin mulut enggan berhenti menyeruput sampai kuah ludes. Soto Mi Nikmat Haji Sahadi buka dari Senin-Minggu sejak pukul 08.00 hingga pukul 19.00.

Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2009/07/04/11404816/Soto.Mie.Karang.Anyar..Bertahan.Lebih.dari.Setengah.Abad

- Lily -